Edisi 21 September 2026Kebiasaan kecil, umur panjang.
← Sehat HarianMental

Marah di jalan macet: mengelola emosi harian dalam perjalanan pulang

Perjalanan pulang yang panjang sering menjadi tempat emosi seharian meledak. Yang terjadi di jalan ikut pulang ke rumah.

Marah di jalan macet: mengelola emosi harian dalam perjalanan pulang
Foto: E / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Hampir setiap orang yang bekerja di kota besar punya cerita yang sama: pulang dalam kemacetan, diserobot motor, ditahan klakson dari belakang, dan tiba di rumah dengan sisa kemarahan yang kemudian tumpah ke orang yang tidak bersalah. Anak yang bertanya terlalu banyak, pasangan yang lupa membeli sesuatu, atau sekadar televisi yang terlalu keras.

Perjalanan pulang adalah waktu yang istimewa secara emosional. Tubuh sudah lelah, kesabaran sudah terpakai sepanjang hari, dan kita berada di lingkungan yang penuh gangguan sekaligus tanpa kendali. Marah dalam kondisi seperti itu bukan kelemahan karakter. Namun, apa yang kita lakukan dengan kemarahan itu tetap pilihan, dan pilihan itu memengaruhi kesehatan hubungan dan tekanan darah dalam jangka panjang.

Baca juga: Kembali bekerja setelah libur Lebaran: mengatur ulang ritme tanpa panik di minggu pertama

Menyadari pemicunya sebelum meledak

Langkah pertama adalah memperhatikan pola. Kebanyakan orang marah di titik yang sama setiap hari: perempatan tertentu, jam tertentu, jenis pengendara tertentu. Mengetahui bahwa kemarahan akan datang di lampu merah ketiga membuatnya lebih mudah dikenali sebagai sesuatu yang bisa diprediksi, bukan serangan tiba-tiba.

Lapar dan kurang tidur memperbesar semuanya. Camilan kecil sebelum meninggalkan kantor dan air minum di kendaraan terdengar remeh, tetapi sering kali membedakan antara kesal sebentar dan amarah yang bertahan sampai rumah. Begitu juga dengan apa yang didengarkan: berita yang memanaskan atau musik yang menenangkan menentukan suasana dalam kabin yang sempit itu.

Jeda sebelum masuk rumah

Teknik yang paling sederhana adalah memberi jeda antara perjalanan dan rumah. Duduk dua menit di kendaraan yang sudah terparkir, menarik napas panjang beberapa kali, dan secara sadar memutuskan bahwa yang terjadi di jalan berakhir di jalan. Bagi pengguna angkutan umum, berjalan kaki pelan dari halte ke rumah bisa menjalankan fungsi yang sama.

Di dalam rumah, mengatakan dengan jujur bahwa perjalanan tadi melelahkan dan Anda butuh sepuluh menit sebelum bicara jauh lebih baik daripada menjawab pertanyaan dengan nada tinggi. Keluarga umumnya bisa menerima permintaan jeda; yang sulit mereka terima adalah menjadi sasaran kemarahan yang bukan milik mereka.

Jika kemarahan di jalan sudah berujung pada perilaku berbahaya, mengejar pengendara lain, atau jika ledakan emosi semakin sering terjadi juga di luar perjalanan, itu sinyal untuk berbicara dengan psikolog atau konselor. Kemarahan yang terus menumpuk jarang selesai sendiri, tetapi hampir selalu bisa dikelola ketika ada yang membantu melihatnya dari luar.

RN
Ratih NasutionRatih Nasution menulis untuk Sehat Harian dari 2023 hingga 2025, salah satu dari sedikit penulis yang menemani situs ini sejak tahun pertamanya. Ia dikenal di redaksi karena menolak menulis tentang suplemen apa pun yang belum ia periksa nomor izin edarnya.